← Kembali ke Galeri

Dampak Pandemi bagi Seniman: Upaya Kebangkitan Pasar Seni Hutan Kota Palu

TVRI Sulawesi Tengah • 23 Jun 2020 • Durasi 13:56
00:00 — Pembukaan oleh Muhammad Rivaldi Bantaya: pengantar tentang efek pandemi terhadap ruang gerak masyarakat khususnya pekerja seni di Sulawesi Tengah; banyak kegiatan seni seperti festival dan jambore budaya tertunda. Pemerintah menyediakan fasilitas seperti Pasar Seni di Hutan Kota Palu sebagai wadah pamer dan pertunjukan tari/teater, bukan sekadar tempat jualan.

02:01 — Kondisi & strategi: event seni banyak tertunda; komunitas seni menyusun protokol new-normal (cuci tangan, masker, jaga jarak, pembatasan kontak fisik dengan karya). Pembukaan pasar seni dilakukan bertahap sambil menegakkan protokol. Tercatat sekitar 12 komunitas/kelompok seni aktif menempati pasar seni (pengrajin, pemusik, penari, dsb).

04:28 — Peran media & pemerintah: pegiat seni meminta dukungan promosi dari media lokal termasuk TVRI Sulawesi Tengah untuk menjangkau publik; Pasar Seni diharapkan menjadi ikon kota dan sumber pendapatan seniman.

06:11 — Strategi meningkatkan kunjungan: kampanye media sosial (“Ayo ke Pasar Seni”), pengaturan pentas dengan protokol ketat; harapan agar publik mulai percaya dan berani hadir kembali tanpa mengabaikan keselamatan.

07:24 — Ajakan & penyesuaian ekonomi: promosi aktif, penurunan harga sebagian produk untuk menyesuaikan daya beli; fokus membantu seniman tetap mendapat penghasilan.

08:39 — Ketahanan komunitas seni: meski tantangan besar, semangat berkarya tetap ada; pengalaman bangkit dari bencana sebelumnya membuat seniman relatif terbiasa menghadapi krisis.

10:00 — Produksi & permintaan: produksi alat musik menurun (karena minimnya pertunjukan), sementara permintaan untuk kerajinan rumah tangga (bambu, dekorasi) meningkat, khususnya dari konsumen rumah tangga.

11:04 — Dukungan resmi: Pemerintah Kota Kota Palu meresmikan Pasar Seni Hutan Kota dengan kebijakan pelaksanaan yang mengacu protokol kesehatan.

12:13 — Harapan penutup: ajakan jaga kesehatan, memanfaatkan sumber daya lokal (mis. daun kelor) untuk imunitas; optimisme bangkit bersama; penutup dengan doa dan salam.