Sejarah Datokarama Abdullah Raqie | Pembawa Islam dari Minangkabau ke Sulawesi Tengah

Dokumen Publik • 01 Mar 2026
Pratinjau Dokumen
Pratinjau interaktif

Memuat PDF...

Didukung oleh SmartEngine™

Deskripsi

Dato Karama (nama aslinya Abdullah Raqie) merupakan salah satu tokoh pembawa Islam dari Koto Tangah Minangkabau ke lembah Palu. Menurut Adriani dan Kruijt (1912) nama Dato Karama sudah sangat terkenal sebagai salah seorang pembawa Islam di lembah Palu (dulu disebut Paloe) dan Parigi ketika mereka melakukan expedisi pada tahun 1897. Saat kedatangan Dato Karama, Palu masih
merupakan desa yang letaknya agak jauh dari pantai. Suatu ketika penduduk yang sedang membuat garam di pantai melihat sesuatu yang aneh muncul dilaut ditengah gelombang yang tinggi dan tiba tiba muncul seorang pria dan seorang anak. Penduduk kemudian lari melapor kepada kepala raja Palu (Pue Nggari) yang kemudian datang dengan menunggang kuda ke pantai untuk melihat Dato Karama
(hal. 299). Istilah Dato merupakan istilah khas Minangkabau. Kata Dato juga disebut dengan Datu atau Datuak yang berasal dari bahasa Sanskerta yang terdiri dari “Da” atau ‘ra” dan “to”. Da artinya “mulia, “to” artinya “orang”. Jadi “Dato’ artinya orang yang mulia (Amrizal, 2011; Navis, 1984). Meskipun istilah “Datu”, “Datuak” dan “Dato’ memiliki makna yang sama, penulis hanya menggunakan istilah “Dato”
dalam buku ini karena istilah “Dato” sudah menjadi sebutan bagi Abdullah Raqie yaitu Dato Karama. Nama Dato Karama juga sudah melekat ditelingan masyarakat Sulawesi Tengah dan juga sudah menjadi nama untuk beberapa situs seperti perguruan tinggi dan taman. Sedangkan istilah “karama” berarti “keramat” yang diberikan oleh masyarakat lembah Palu kepada Abdullah Raqie.